GANDENG DDC, IMO-Indonesia DPW Bengkulu Serahkan Enam Paket Bantuan Website Gratis

BENGKULU SELATAN | Ikatan Media Online (IMO) Indonesia DPW Bengkulu menyerahkan enam paket bantuan website gratis kepada wartawan terdampak pandemi Covid-19.

Penyerahan bantuan dilakukan oleh Bendahara IMO DPW Bengkulu Alfian dan Pembina IMO DPC Bengkulu Selatan Wadimin usai rapat koordinasi bulanan di obyek wisata kuliner Tebing Kayu Aghau, Bengkulu Selatan, Minggu (1/8) sore.

Penerima bantuan adalah enam wartawan lokal berdomisili di Kabupaten Seluma dan Kaur yang sejak awal pandemi keluar dari perusahaan media tempat mereka bekerja karena krisis pendapatan.

Tiap paket bantuan terdiri dari website berita, notebook, smartphone, dan meja kerja redaksi.

“Semoga bisa digunakan sebaik-baiknya oleh rekan-rekan penerima untuk memulai lembaran baru sebagai pengusaha media mainstream di daerah masing-masing,” harap Bendahara IMO DPW Bengkulu, Alfian.

Materi bantuan ini, kata dia, merupakan hasil kerjasama antara IMO DPW Bengkulu dengan Dedi Dewi Cyberversity (DDC), sebuah perusahaan penyedia website desa digital (Dedi) dan desa wisata (Dewi).

Pembina IMO DPC Bengkulu Selatan Wadimin menyampaikan harapan senada. Politisi muda ini meminta kepada seluruh anggota IMO di Provinsi Bengkulu turut memberikan support moral kepada enam penerima bantuan agar usaha barunya segera berjalan normal.

“Jumlah rekan seprofesi ini tidak banyak, jadi mustahil minoritas ini sulit dibuat kompak dan tolong-menolong. Bukan hanya DPW, DPC pun nanti harus punya program-program terobosan seperti ini,” anjurnya.

Wadimin menegaskan, IMO-Indonesia harus punya arah sendiri sesuai visi-misi organisasi, tidak boleh terpengaruh apalagi ikut-ikutan bertindak semberono sehingga merugikan pihak lain.

“Tetap dingin walaupun berada di lingkungan membara, fokus pada tujuan-tujuan konstruktif bagi organisasi yang tengah membina anggotanya mengelola usaha media sehat dan menguntungkan semua pihak,” pungkasnya.

Sepekan sebelumnya, Ketua IMO DPW Bengkulu Ersanius menyampaikan keprihatinannya terhadap terlunta-luntanya nasib 20 orang lebih pekerja pers lokal akibat pandemi Covid-19.

Setelah memutuskan keluar dari media masing-masing karena pengetatan sistem bagi hasil di masa pandemi, ada yang banting setir jadi pekebun, penjual ikan keliling, bahkan buruh tani.

Alumni Moskwa MV Lomonosov Russia itu berjanji akan segera mendapatkan solusi bagi mereka agar bisa berkiprah kembali di dunia pers, bila perlu dinaikkan peringkatnya dari wartawan biasa menjadi pengusaha media.