Tiga Puisi Nia Sadipun

SANG BULAN

Engkau sebuah cahaya dari terang
Bak lampu yang menyala tanpa suram
Bak api yang membara memerah
Mengusir gelap, memeluk jagat semesta

Sejenak kuterdiam termangu pada sebuah hening
Memandang indah tak pernah jemu
Berada jauh dibatasi waktu
Menghapus segala letih dan rindu

Hai sang bulan abadi
Kini heningku membawa kata dan pengertian
Lahir dari cara yang diramu dalam keindahan
Keindahan tentangmu yang tak harus didekati
Hingga tatapan berhenti pada sebuah kekaguman tak berkata

 

IBU

Ibu…
Hatimu kini bagai berperang
Melawan sakit nan terus menyerang
Bagai remukan tulang dalam badai yang tak terbayang

Kau menangis di dalam lirih
Menahan sakit dan juga perih
Langkahmu kuat tak tertatih
Pengorbananmu besar begitu berarti

Ibu…
Tak bisa kuucap dalam sebuah kata
Wanita tulus yang paling kucinta
Hanyalah setetes air mata tempatku mengenangmu

Kau ratu tak bermahkota
Mahkotamu adalah asupan asi yang kuterima
Kau bintang bersinar terang
Berikan cahaya, hatiku senang
Rindumu dan air matamu adalah doamu padaku
Dalam diammu aku merasakan ketenangan

 

UNTUKMU AYAH…

Dalam ruang sepi bertepi
Dia pria hebat dari rahim kesederhanaan
Hadapi masalah dengan kuat
Dan selalu menjadi penyemangatku

Kini kulitnya makin keriput
Termakan umur yang kini menciut
Semangatnya tak pernah luput
Selalu ada di setiap detak dan denyut

Meski masalah di bibir mata
Semuanya kau tepis dengan cinta
Kini diriku hanya bisa meminta
Sebuah doa untukmu yang menjadi nyata **

Catatan: Nia Sadipun
Saat ini adalah Siswi Kelas XI Bahasa SMAS Katolik Alvarez Paga.